Kamis, 25 Agustus 2011

SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA


SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA


Menurut program manager Dkap PMI Provinsi Riau Nofdianto, seiring kota Pekan Baru menuju kota metropolitan, pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat dikalangan SMP. Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakaan padahal mereka tidak mengerti dan tidak tahu apa resiko yang akan dihadapinya.
Sejak berdirinya Dkap PMI tiga tahun lalu, kasus HIV dan hamil di luar nikah terus mengalami peningkatan. Setiap bulan ada 10 – 20 kasus. Mereka yang sebagian besar kalangan pelajar dan mahasiswa ini datang untuk melakukan konseling tanpa didampingi orang tua. Rata-rata mereka berusia 16 – 23 tahun. Bahkan ada yang berusi 14 tahun datang ke Dkap untuk konsultasi bahwa ia sudah hamil. Mereka yang melakukan konseling, ada datang sendiri, ada juga dengan pasangannya. Sebagian besar orangtua mereka tidak tahun. Meskipun begitu, lanjutnya para remaja yang mengalami ”kecelakaan” ini tidak boleh dijauhi dan dibenci. Kita tidak pernah melarang mereka untuk melakukan hubungan seks, karena ketika dilarang atau kita menghakimi, mereka akan menjauhi kita. Makanya, Dkap disini merupakan teman curhat mereka dan kita memberikan solusi bersama. Seberat apapun masalahnya, kalau bersama bisa diatasi. Bukan hanya remaja nakal saja yang terjebak, anak baikpun bisa kena. Anak baik yang disebut anak rumah pun ada yang mengalami ”kecelakaan”. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pencegahan dini dengan memberikan pengetahuan seks. Pendidikan seks itu sangat penting sekali. Tapi, dimasyarakat kita pendidikan seks itu masih dianggap tabu. Berdasarkan pengamatan, banyaknya remaja yang terjebak seks bebas ini dikarenakan mereka belum mengetahui tentang seks.
Seks itu bukan hanya berhubungan intim saja, tapi banyak sekali bagamana merawat organ vital, mencegah HIV dan lainnya. Pelajari seks itu secara benar supaya kita bisa hidup benar.
Sementara itu, Martha Sari Uli pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengaku interaksi bebas dikalangan remaja dalam pergaulan bebas, identik dengan kegiatan negatif. Banyak anak-anak remaja beranggapan bahwa masa remaja adalah masa paling indah dan selalu menjadi alasan sehingga banyak remaja yang menjadi korban dan menimbulkan sesuatu yang menyimpang. Senada  dengan itu, Debora Juliana juga pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengatakan pergaulan bebas itu saat ini sudah tidak tabu lagi, dan banyak remaja yang menjadikannya budaya modern. Pergaulan bebas berawal ketika remaja mulai melakukan perbuatan yang keluar dari jalur norma-norma yang berlaku di sekitar kehidupan kita. Sekarang banyak banget anak-anak seumuran kita sudah keluar dari jalurnya.
Ketua MUI Provinsi Riau Prof. Dr. H. Mahdini, MA mengatakan data yang ditemukan lebih banyak lagi anak-anak yang melakukan seks bebas. Maka diperlukan pencegahan. Banyaknya kalangan remaja yang melakukan seks bebas, lanjutnya diindikasikan ada jaringan tertentu yang menggiring anak-anak ke hal yang negatif. Oleh karena itu, MUI menghimbau untuk menutup tempat yang berbau maksiat. Ditingkat pergaulan dalam kondisi hari ini, anak-anak bisa saja berbohong. Oleh sebab itu, pengawasan orangtua harus diperketat. Tentu  saja contoh perilaku orangtua sangat berperan. Hal yang sama juga diutarakan Drs. Ali Anwar, kepala SMA S Pekanbaru. Menurutnya, akibat perkembangan zaman, ketika agama tidak lagi menjadi pokok dalam kehilangan banyak remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas. Solusinya, kuatkan lagi ajaran agama. Baik di sekolah maupun di rumah, agama merupakan kebutuhan pokok. Selain itu, orangtua harus lebih memperhatikan anaknya. Orangtua dan anak harus selalu berkomunikasi. Sehingga tahu persoalan anak. Menyikapi hal ini, kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Drs. H. M. Wardan, M.P, mengatakan akan melakukan komunikasi dengan dinas pendidikan kabupaten/ kota untuk membuat surat edaran ke sekolah-sekolah dalam mengantisipasi hal tersebut. Kita berharap jangan sampai terjadi hal tersebut karena akan merusak diri sendiri, sekolah, agama dan daerah.

BAHAN CEMOOHAN
Banyak penelitian tentang aktivitas seksual menjadi bahan cemoohan masyarakat. Seperti tidak yakin bahwa hal demikian tidak dilakukan oleh anak-anak itu. Bukanlah mereka anak-anak yang taat pada orangtua, rajin ke gereja, dan seterusnya? Sejak Februari 2005 hingga Desember 2006, melalui SMS, surat, dan email. Dari 375 masalah, 135 atau 35 % nya adalah masalah pacaran, menyusul 21 % problem keluarga dan seterusnya. Kalau problem pacaran ini dikategorikan lagi ke ”aktivitas seksual” saat pacaran, kita akan mendapatkan angka sebagai berikut:
·         Berciuman     = 21,33 %
·         Necking         = 15 %
·         Petting           = 12 %
·         Bersetubuh    = 35 %
Sisanya 17,33 % tidak menjelaskan sudah melakukan apa selama pacaran. Ini angka-angka yang sungguh memprihatinkan. Dari 1754 data yang terkumpul selama tahun 2005, untuk tahun 2006 angkanya akan lebih tinggi. Problem pacaran menduduki peringkat pertama dengan 531 kasus atau 34 %, menyusun seks 360 kasus atau 23 %. Yang dikategorikan dalam  ”seks” mencakup intercouse, aborsi, keguguran, hamil diluar nikah, penyimpangan seksual, perkosaan, dan mitos tentang seks.

PENDIDIKAN DAN MITOS SEKS
Pendidikan seks yang tidak diberikan sedini mungkin menjadi salah satu alasan seks bebas marak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda. Dari data PKBI, klien mereka rata-rata berusia antara 13 – 25 tahun, dan masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Informasi dari peer-groupnya tentang seks yang keliru, berbaur kematangan biologis mereka. Pacaran kebablasan terjadi karena pengetahuan remaja tentang seks yang sangat terbatas. Maka mereka berinisiatif untuk coba-coba. Menurunnya tata nilai remaja dalam peer-groupnya dan pengaruh pelbagai media sangat berpengaruh pada remaja.

DAPAT TERJADI PADA SIAPA SAJA
Seks bebas tidak hanya dilakukan anak-anak dari keluarga kurang harmonis dan agak longgar pengawasannya, seperti yang diasumsikan masyarakat selama ini. Anak-anak dari keluarga baik-baik, anak papi atau anak mami, yang orangtuanya tokoh agama sekalipun, bisa terjerumus ke seks bebas. ”dan ingat, angka-angka yang ada hanya pucuk dari gunung es. Lebih banyak yang malu dan tidak mengadu ke kami”, kata para konselor. Dengan contoh data-data tersebut, semoga kita sebagai orang tua semakin waspada bahwa godaan untuk berperilaku seksual aktif pada remaja dapat terjadi pada siapa saja, kapan dan dimana saja.

PEMICU AKTIVITAS SEKSUAL SAAT MENJALANI MASA PRANIKAH
Kasus pacaran ”kebablasan” belakangan memang makin sering terjadi. Tidak mungkin ada pacaran ”kebablasan” kalau tidak ada hal-hal yang bisa memancing aktivitas seksual. Belajar dari kasus-kasus yang ada, beberapa hal yang bisa memicu aktivitas seksual saat pacaran ialah sebagai berikut:
1.      Pergaulan yang terlalu bebas, tanpa pengawasan dan bimbingan orang tua.
2.      Pakaian yang kurang pantas. Kelemahan pria pada matanya. Jadi, kalau wanita sengaja mengenakan busana yang kurang pantas saat pacaran, berarti ia mengundang bahaya bagi dirinya sendiri.
3.      Adanya kontak fisik, khususnya pada daerah terlarang. Biasanya dimulai dengan tangan, naik ke bahu, dan seterusnya. Ingat ”tegangan listrik” dua orang yang sedang masuk asmara sangat tinggi. Jangan biarkan terjadi kontak fisik kalau anda tidka ingin ”korslet”.
4.      Situasi yang mendukung. Banyak suasana yang memfasilitasi pacaran jadi ”kebablasan”, seperti bedua di dalam rumah, berada di ruang tamu yang sepi, senja hari dipinggir pantai. Suasana seperti itu akan dengan mudahnya membangkitkan gejolak darah mudah.
Selain adanya pemicu, berikut ini adalah hal-hal yang bisa mempengaruhi aktivitas seksual saat pacaran.
1.      Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua. Hubungan yang harmonis dengan orangtua memang bukan jaminan pasti tidak akan terjadi aktivitas seskual saat pacaran. Namun, hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak akan membuat komunikasi lebih terbuka sehingga orang tua lebih mengetahui aktivitas anak.
2.      Penanaman nilai dan norma agama yang kruang tepat. Pada masa kanak-kanan (balita) ada orangtua yag menanamkan hal-hal yang menakutkan tentang Tuhan, misalnya anak tidak boleh berbohong karena dosa dan nanti Tuhan marah. Akibatnya, anak tidak memiliki hubungan yang menyenangkan dengan Tuhan. Ketika anak memasuki usia remaja dan mulai mandiri, merekapun bertindak sesuai dengan kehendak mereka sendiri tanpa merasa bersalah.
3.      Pendidikan seksual yang kurang tepat. Sekarang telah banyak sekolah yang memberikan pendidikan seksual. Masalahnya, justru karena diberitahu hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas, ada beberapa anak yang malah ingin mencoba-coba. Kebanyakan remaja dan anak muda justru mendapat informasi pengetahuan seksual dari sumber-sumber diluaran yang tidak jelas, dan bukannya mendapatkannya dari orang tua dan gereja.
4.      Pandangan yang keliru tentang seks pranikah. Penelitian terhadap anak remaja di 3 SMA, ternyata 83 % menilai seks pranikah sebagai hal yang wajar, dan 72 % mengaku kurang mendapatkan pendidikan seks dari kelarganya. Padahal, dilihat dari sekolahnya, mereka pasti memperoleh pendidikan agama yang sangat kuat.
5.      Kematangan emosi. Kematangan emosi berkaitan dengan usia mulai berpacaran. Jika berpacaran saat remaja bahkan sebelumnya, bila tidak ada pembekalan yang tepat dari orang tua, guru, pelayan Tuhan, dll. Kemungkinan terjadinya aktivitas seksual yang berlebihan lebih besar. Hal ini karena pada masa remaja, hormon-hormon seksual mulai berfungsi dan pengontrolan emosi masih labil. Orangtuapun seharusnya mengijinkan anaknya memiliki calon pasangan hidup saat usia anak mereka telah cukup dewasa. Membiarkan anak berpacaran saat masih dibangku SMA tidaklah tepat, karena pada usia tersebut usia jiwa dan mental anak masih labil dan belum siap untuk memiliki calon pasangan hidup.
6.      Pengaruh kelompok teman sebaya. Jika sebagian besar anggota kelompok teman sebayanya telah melakukan aktivitas seksual saat berpacaran dan mereka selalu menceritakan kepada teman-temannya, tanpa iman dan  mental yang kuat, anak akan cenderung mengikuti gaya berpacaran teman-temannya. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik (1 Kor 15:33)

SOLUSI BILA KEBABLASAN
Bagi pasangan sudah ”kebablasan” dalam pacaran, ada solusi sebagai berikut:
1.      Jika belum hamil, masing-masing harus bertobat dan berjanji dihadapan Tuhan untuk tidak mengulangi lagi, serta menjalani masa pranikah dalam pengawasan orangtua serta mentor rohani. Hal ini mungkin terjadi kalau pasangan telah hidup dalam jalan Tuhan”
2.      Bagi pihak perempuan, kalau pacarnya masih tetap menuntut aktivitas seks yang ”kebablasan”, lebih baik segera mengambil keputusan untuk putus dari pacarnya karena kerugian akan selalu ditanggung oleh pihak perempuan. Kasih yang sejati tidak akan mengatasnamakan cinta untuk melakukan hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan.
3.      Jikalau sampai hamil, tidak boleh digugurkan. Kalau hamil di luar pernikahan resmi sudah berdosa, jangan ditambah dengan pengguguran kandungan.itu berarti melakukan dosa ganda. Apa saja yang kita tabur pasti kita tuai. Sebaiknya segera bertobat dan menikah secara resmi dihadapan Tuhan.
4.      Setelah menikah, selain mengubah pandangan bahwa sekarang harus berperan sebagai orangtua, merekapun harus bertanggung jawab. Mereka harus belajar cara mengasuh dan mendidik anak di dalam Tuhan.

1 komentar: